Makalah Praktikum Biologi Umum II
MAKALAH BIOPORI
D
I
S
U
S
U
N
Oleh:
1.
Bimbi Nullah
2.
Dewi I tampubolon
3.
Dimas Nuari
4.
Lia rahmawati
5.
Mardiyanti Gaja
Pendidikan Biologi C 2012

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Medan
2013
KATA PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan
puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
ilmiah biologi tentang limbah dan pemanfaatannya dengan baik.
Adapun makalah ilmiah biologi
tentang limbah dan pemanfaatannya ini telah kami usahakan semaksimal mungkin
dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan bayak terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu,
kami menyadar sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya
maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami
membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin member saran dan kritik kepada
kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ilmiah biologi ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan
semoga dari makalah ilmiah biologi tentang limbah dan pemanfaatannya ini dapat
diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap
pembaca.
Medan, Mei 2013
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
Banjir merupakan musuh
tahunan warga di sejumlah daerah di tanah air. Pembukaan lahan, perataan tanah
untuk pembangunan pemukiman dan prasarana lainnya mengakibatkan pemadatan
tanah, berkurangnnya sumber bahan organik tanah, serta rusaknya liang-liang
bekas penembusan dan galian fauna tanah.
Pada saat pembangunan sebagian permukaan lahan
dipadatkan untuk bangunan dan prasarana jalan. Hal ini mengakibatkan sebagian
besar air hujan tidak dapat meresap ke dalam tanah, tetapimengalir ke permukaan
tanah dan dibuang melalui saluran drainase. Buruknya saluran pembuangan air
(drainase) serta menurunnya daya serap tanah akibat pembangunan mengakibatkan
banjir.
Guna menanggulangi
masalah banjir tersebut, Ir. Kamir R. Brata, MSc., dosen Ilmu Tanah dan Sumber
Daya Lahan Institut Pertanian Bogor, menemukan teknologi sederhana yang
disebutnya teknologi biopori. Ide pembuatan biopori muncul pada saat beliau
meneliti bongkahan tanah kawasan hutan konservasi di Sumatra. Pada bongkahan
itu terdapat ratusan lubang mirip terowongan yang berbentuk pori-pori. Lubang-lubang
itu dibuat oleh semut, rayap, cacing, dan akar tanaman.
Satu bongkahan seukuran
buah kelapa mengandung ratusan lubang yang menyerap air dikala hujan.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan adanya lubang tak kasatmata yang terdapat
pada bongkahan, berupa ratusan lubang biopori. Lubang-lubang ini berfungsi
menyerap air, menyaring air bersih, mengurai sampah organik, serta menjaga
unsur hara pada tanah.
Lubang-lubang biopori akan terisi udara, dan akan
menjadi tempat berlalunya air dalam tanah. Bila lubang-lubang seperti ini
dibuat dalam jumlah banyak maka kemampuan sebidang tanah untuk meresapkan air
akan meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan
memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah. Hal ini akan
mengurangi bahaya banjir yang mungkin terjadi.
Peningkatan jumlah
biopori dapat dilakukan dengan membuat lubang vertikal di dalam tanah.
Lubang-lubang tersebut diisi dengan bahan-bahan organik seperti daun-daun
kering, potongan rumput, atau tanaman, serta sampah organik rumah tangga.
Bahan-bahan organik ini dijadikan sumber energi bagi organisme hidup di dalam
tanah. Peningkatan aktivitas organisme tersebut akan meningkatkan jumlah
biopori yang terbentuk.
Lubang biopori
merupakan teknologi sederhana untuk konservasi lahan dan penyediaan air bersih.
Lubang ini dikembangkan atas dasar prinsip ekohidrologis, yaitu memperbaiki
kondisi ekosistem tanah untuk perbaikan fungsi hidrologis ekosistem tersebut.
Teknologi ini bisa diaplikasikan di kawasan perumahan yang 100% kedap air atau
sama sekali tidak ada tanah terbuka maupun di areal persawahan yang berlokasi
di kawasan perbukitan. Lubang sebaiknya dibuat di bagian tanah yang tidak
terendam air atau lebih tinggi dari saluran air. Jika lubang tersebut terendam
air maka fauna tanah seperti cacing, rayap, dan semut akan kekurangan oksigen.
Selain itu, menyebabkan hilangnya kemampuan meresapnya air karena sudah
jenuh.
BAB II
ISI
2.1. Pengertian
Biopori
Biopori adalah
lubang-lubang kecil atau pori-pori di
dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai akitifitas organisme di dalamnya,
seperti cacing, , perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah laiinya. Pori-pori
yang ada dapat menigkatkan kemampuan tanah menahan air dengan cara
menyirkulasikan air dan oksigen ke dalam tanah.
Jadi, semakin banyak biopori di dalam tanah, semakin sehat tanah
tersebut. Gambar di atas
menunjukkan gambar biopori dilihat dari mikroskop.
Di daerah yang masih
alami, mekanisme pembentukan biopori terjadi dengan sendirinya. Dengan adanya perubahan struktur di atas
dan di dalam tanah akibat pembangunan/ pengolahan tanah yang dilakukan manusia
seperti pertanian, deforestasi dan perumahan, mekanisme alamiah pembentukan
biopori menjadi tidak berjalan.
Untuk mengatasi
permasalahan ini, Kamir R. Brata, seorang peneliti dari Institut Pertanian
Bogor (IPB), mengembangkan sebuah cara untuk mendorong terbentuknya biopori
melalui Lubang Resapan Biopori (LRB).

http://chayoy.blogspot.com
2.2. Lokasi
Pembuatan Lubang Biopori
Lubang biopori
sebaiknya dibuat di tempat-tempat dimana air akan terkumpul pada saat hujan. Air hujan diarahkan sedemikian rupa
sehingga mengalir ke lubang resapan biopori yang dibuat. Sebagai kompensasi
terhadap pengerasan atau bidang kedap yang berupa bangunan, halaman yang diperkeras,
jalan beraspal, atau bentuk-bentuk penutupan permukaan tanah lainnya, lubang
resapan biopori tidak hanya dibuat satu buah, melainkan dibuat banyak. Lubang
resapan biopori dapat dibuat pada :
2.2.1. Halaman
Rumah
Pembuatan lubang
resapan biopori di halaman selain memperhatikan unsur artistik atau keindahan,
sebaiknya juga memperhatikan unsur keamanan. Meskipun hanya berdiameter kecil
(10 cm) tetapi dapat menyebabkan kecelakaan, terutama bagi anak-anak. Lubang
resapan biopori dapat dibuat di pinggir halaman dimana air hujan dapat mengalir
ke lubang yang dibuat. Pembuatan lubang resapan biopori di halaman disesuaikan
dengan kontur tanah.
2.2.3. Taman
Kota
Lokasi pembuatan lubang
biopori di taman dapat dilihat pada contoh gambar di atas ini. Lubang resapan
biopori dibuat sesuai dengan kontur taman atau bisa pula dibuat di sekeliling
pohon. Pembuatan lubang resapan biopori mengelilingi pohon juga dapat berfungsi
sebagai pupuk organik bagi tanaman sekaligus meningkatkan ketersediaan cadangan
air sehingga akan menyuburkan tanaman.
2.2.4. Saluran
Pembuangan Air:
Lubang resapan biopori
juga dapat dibuat pada saluran pembuangan air, sehingga saluran pembuangan air
juga berfungsi menjadi tempat peresapan air.
Pembuatan lubang resapan biopori sebaiknya disesuaikan
dengan kontur tanah yang ada atau pada dasar alur-alur yang sengaja dibuat
untuk mengumpulkan serta mengarahkan air masuk ke dalam lubang biopori.
Pembuatan lubang resapan biopori pada dasar alur tersebut juga cenderung lebih
aman karena pada umumnya manusia tidak suka berjalan melewati daerah alur,
sehingga dapat menghindari kaki terperosok ke dalam lubang.

http://chayoy.blogspot.com
2.3. Pembuatan Lubang Resapan Biopori (LBR)
Lubang resapan biopori
adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan
diameter 10 – 30 cm dan kedalaman sekitar 100 cm, atau dalam kasus tanah dengan
permukaan air tanah dangkal, tidak sampai melebihi kedalaman muka air tanah. Langkah-langkah pembuatan LRB yaitu:
1. Membuat
lubang silindris ke dalam tanah dengan diameter10 cm, kedalaman 100 cm atau
tidak melampauikedalaman air tanah. Jarak pembuatan lubang resapanbiopori
antara 50 – 100 cm

http://chayoy.blogspot.com
2.
Pembuatan lubang dapat dibuat dengan
memakai alat bantu yang disebut bor biopori
3.
Memperkuat mulut atau pangkal lubang
dengan menggunakan:

http://chayoy.blogspot.com
1) paralon
dengan diameter 10 cm, panjang minimal 10cm; atau
2) adukan
semen selebar 2 – 3 cm, setebal 2 cm disekeliling mulut lubang.
4.
Mengisi lubang LRB dengan sampah organik
yang berasaldari dedaunan, pangkasan rumput dari halaman atau sampah dapur; dan
5. Menutup
lubang resapan biopori dengan saringan kawat/lainnya.
6. Setelah
LRB dibuat, secara berkala lubang harus dirawat dan dipelihara dengan cara:
·
Mengisi sampah organik kedalam lubang
resapan biopori;
·
Memasukkan sampah organik secara berkala
pada saat terjadi penurunan volume sampah organik pada lubang resapan biopori;
dan/atau mengambil
sampah organik yang ada dalam lubang resapan biopori setelah menjadi kompos diperkirakan
2 – 3 bulan telah terjadi proses pelapukan.
7. Jumlah
lubang yang perlu dibuat dapat dihitung dengan menggunakan persamaan: Jumlah LRB = intensitas hujan(mm/jam) x
luas bidang kedap (m2) / Laju Peresapan Air per Lubang (liter/jam), Sebagai contoh, untuk daerah dengan
intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air perlubang 3
liter/menit (180 liter/jam) pada 100 m2 bidang kedap perlu dibuat sebanyak (50
x 100) / 180 = 28 lubang.
2.4. Manfaat
Tekhnologi Biopori
Setelah lubang biopori dibuat segala manfaat dapat
dicapai, antara lain:
2.4.1. Meningkatkan daya peresapan air dan
cadangan air tanah.
Pembuatan lubang
resapan biopori akan memperluas bidang permukaan peresapan air seluas permukaan dinding lubang. Suatu permukaan tanah berbentuk
lingkaran dengan diameter 10 cm yang semula mempunyai bidang permukaan resapan
79 cm2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas
bidang resapannya menjadi 0,3 m2. Terjadi pertambahan luas bidang peresapan
sampai 40 kali. Permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diameter 100 cm yang
semula mempunyai bidang permukaan bidang resapannya menjadi 3,14 m2. Terjadi
pertambahan luas bidang peresapan 4 kali.
Diameter lubang yang
kecil akan mempunyai pertambahan luas bidang peresapan yang lebih besar
sehingga lubang resapan biopori dibuat dengan diameter kecil. Lubang resapan
biopori yang dibuat dengan diameter kecil akan mengurangi beban resapan,
sehingga laju peresapan air dapat dipertahankan. Beban resapan adalah volume
air yang masuk ke dalam lubang dibagi luas permukaan resapan (dinding dan dasar
lubang).
Peningkatan diameter
lubang meningkatkan beban resapan dan mengurangi pertambahan luas bidang
resapan. Kombinasi antara luas bidang resapan dan adanya biopori secara
bersama-sama akan meningkatkan kemampuan tanah dalam meresapkan air. Peresapan
air hujan ini selain dapat mencegah banjir juga dapat meningkatkan cadangan air
tanah.
2.4.2. Mengurangi emisi CO2 dan Metan
Sampah organik yang
berupa rumput, daun-daun kering dan ranting-ranting sisa tanaman kaya akan
sumber karbon. Pembakaran sampah organik akan meningkatkan emisi gas-gas
seperti CO2 dan metan yang merupakan salah satu penyusun gas rumah kaca.
Disinyalir peningkatan emisi gas tersebut ke atmosfir merupakan salah satu
penyebab utama adanya pemanasan global yang ramai dibicarakan saat ini.
Pembuangan sampah organik ke dalam lubang resapan biopori dapat memfungsikan
tanah kembali sebagai penyimpan karbon, sehingga dapat mengurangi emisi karbon
ke atmosfir. Karbon yang tersimpan di dalam tanah dalam bentuk humus tidak akan
mudah diemisikan, bahkan dapat memelihara kesuburan tanah.
2.4.3. Mengatasi penyebab penyakit yang
ditimbulkan oleh adanya genangan air.
Permukaan tanah terbuka
yang terkena sinar matahari akan ditumbuhi lumut yang dapat menyumbat pori,
apalagi di daerah pemukiman yang banyak dipenuhi bangunan. Hal ini akan
mengakibatkan air tidak dapat meresap ke dalam tanah. Air yang tidak meresap ke
dalam tanah akan menimbulkan genangan air.
Adanya genangan air
yang terus menerus ini merupakan habitat yang baik bagi berkembang biaknya
berbagai jenis nyamuk yang dapat menjadi pembawa penyakit, seperti malaria dan
demam berdarah dengue. Pembuatan lubang resapan biopori dapat meresapkan
genangan air tersebut, sehingga mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk.

http://chayoy.blogspot.com
Lubang resapan biopori
adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan
cara (1) meningkatkan daya resapan air, (2) mengubah sampah organik menjadi
kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), dan (3) memanfaatkan
peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, dan mengatasi masalah yang
ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria.

2.4.4. Mengubah sampah organik menjadi kompos
Lubang resapan biopori
“diaktifkan” dengan memberikan sampah organik kedalamnya. Sampah ini akan
dijadikan sebagai sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan
kegiatannya melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekompoisi ini dikenal
sebagai kompos.. Dengan melalui proses seperti itu maka lubang resapan biopori
selain berfungsi sebagai bidang peresap air juga sekaligus berfungsi sebagai
“pabrik” pembuat kompos. Kompos dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada
berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias, sayuran, dan jenis tanaman
lainnya. Bagi mereka yang senang dengan budidaya tanaman/sayuran organik maka
kompos dari LRB adalah alternatif yang dapat digunakan sebagai pupuk
sayurannya.
Bila lubang yang dibuat berdiameter 10 cm
dengen kedalaman 100 cm, maka setiap lubang dapat menampung 7.8 liter sampah
organik. Jumlah tersebut stara dengan rata-rata jumlah sampah organik selama
2-3 hari dari satu rumah. Dalam selang waktu 56 – 84 hari, sampah di dalam
lubang biopori sudah terdekomposisi
menjadi kompos sehingga volumenya telah
menyusut. Dengan demikian lubang-lubang ini sudah dapat diisi kembali dengan
sampah organik baru dan begitu seterusnya.
Pengolahan sampah
organik dengan pembuatan kompos mengurangi terbentuknya gas metan yang
merupakan salah satu gas rumah kaca. Gas metan terbentuk saat sampah organik
dibuang secara ditimbun/landfill. Jadi secara tidak langsung pembuatan lubang
biopori dapat mengurangi efek rumah kaca.
2.4.5. Memanfaatkan
fauna tanah dan atau akar tanaman
Seperti disebutkan di
atas, lubang resapan biopori diaktikan oleh organisme tanah, khususnya fauna
tanah dan perakaran tanaman. Aktivitas merekalah yang selanjutnya akan menciptakan
rongga-rongga atau liang-liang di dalam tanah yang akan dijadikan “saluran” air
untuk meresap ke dalam tubuh tanah. Dengan memanfaatkan aktivitas mereka maka
rongga-rongga atau liang-liang tersebut akan senantiasa terpelihara dan terjaga
keberadaannya sehingga kemampuan peresapannya akan tetap terjaga tanpa campur
tangan langsung dari manusia untuk pemeliharaannya. Hal ini tentunya akan
sangat menghemat tenaga dan biaya. Kewajiban faktor manusia dalam hal ini
adalah memberikan pakan kepada mereka berupa sampah organik pada periode
tertentu. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan menjadi humus dan
tubuh biota dalam tanah, tidak cepat diemisikan ke atmosfir sebagai gas rumah
kaca; berarti mengurangi pemanasan global dan memelihara biodiversitas dalam
tanah.
BAB
III
PENUTUP
Biopori adalah liang
atau terowongan-terowongan keil di dalam tanah yang terbentuk akibat aktivitas
perakaran tanaman dan berbagai fauna tanah, seperti cacing, rayap, dan semut.
Teknologi biopori bermanfaat untuk meningkatkan daya peresapan air dan cadangan
air tanah, mengubah sampah organik menjadi kompos, mengurangi emisi CO2 dan
metan, serta mengatasi penyebab penyakit yang ditimbulkan oleh adanya genangan
air. Peningkatan biopori dapat dilakukan dengan membuat lubang vertikal di
dalam tanah yang diisi dengan sampah organik. Lubang resapan biopori dapat
dibuat di halaman, taman, ataupun saluran air.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Bumiku
panas.
http:wongtmgloveaworld.blogspot.com. Diakses 30 April 2013.
Anonim .2008. Biopori, teknologi tepat guna
ramah lingkungan.http://biopori.com.
Diakses 30 April 2013 .
Anonim. 2011.Makalah Biopori. http://nonieasti.blogspot.com/2011/07/makalah-biopori.html. Diakses tanggal 30April 2013
Dunia Chayoy. 2012. Penjelasan tentang Biopori http://chayoy.blogspot.com/2012/04/penjelasan-tentang-biopori.html. Diakses Tanggal 30 April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar